Kisah Rokok di Masa Pandemi

        Masih ingat sekitar 2 tahun yang lalu harus mencoba kuat karena si kecil harus masuk ke ruang NICU. Anak pertama saya harus lahir dalam keadaan nafas cepat. Dalam hitungan detik harapan seorang ibu baru musnah begitu saja. Masih ingat dalam ingatan bagaimana si kecil harus tidur dalam kotak plastik yang penuh dengan selang menempel di tubuhnya.
        Saat itu yang saya tahu adalah saya adalah orangtua yang gagal karena telah membuat bayi mungilku yang seharusnya berada dalam pelukan saya kini harus tidur di dalam sekotak plastik bening. Kata dokter saat itu penyebabnya adalah bakteri yang ada di dalam tubuh si kecil. Entah apa yang salah antara saya dan suami saya. 
        Salah satu faktor yang mengakibatkan si kecil lahir dalam keadaan demikian adalah suami saya yang menjadi perokok aktif. Mulai saat itu saya benci sekali dengan rokok dan meminta suamiku untuk mulai berhenti merokok. Muka si kecil mungil dengan penuh selang di badanlah yang membuat suami saya akhirnya berhenti merokok sampai sekarang.
        Beruntungnya merokok bukan lagi bagian dari keluarga saya tapi bagaimana jika masih banyak yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya terlebih di masa pandemi ini.

Corona dan si Rokok 
        Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, merokok merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) penyebab penyakit Kardiovaskular, Kanker, Paru Kronis, dan Diabetes. Selain itu rokok disebutkan juga merupakan faktor risiko penyakit menular seperti TBC dan Infeksi Saluran Pernapasan. Kemudian ditegaskan kembali oleh dr. Meva Nareza dalam situs Alo Dokter bahwa salah satu kelompok yang dinilai rentan terinfeksi virus Corona adalah perokok. Merokok di masa pandemik saat ini bukan menjadi pilihan yang tepat.
        Bayangkan saja bagaimana sebuah rokok membahayakan untuk paru-paru kemudian bertemu dengan virus Covid-19 yang hidup dalam paru-paru bertemu. Rokok bukan hanya merusak diri sendiri tapi yang paling parah karena rokok dapat merusak sekelilingmu bahkan sampai anak saya pun harus lahir dalam keadaan nafas cepat karena saya ayahnya dulu adalah seorang perokok. 
        Dalam situs berita bisnis tempo.co menyatakan bahwa produksi pabrik rokok naik karena menyesuaikan permintaan pasar di saaat masa pandemi ini. Sungguh sangat menakutkan ya karena yang seharusnya dijauhkan di saat masa pandemik ini malah semakin diminati. Mba Renny Nurhasana, Dosen dan Peneliti Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI menyatakan hal ini terjadi karena para karyawan yang WFH merasa lebih bebas merokok dibandingkan disaat mereka berada di dalam kantor. Perlu adanya strategi khusus pemerintah untuk mengendalikan produksi rokok di tengah pandemi ini.

Bagaimana jika cukai rokok kita naikan saja saat pandemi ini? 

        #RuangPublikKBR pada Rabu, 29 Juli 2020 bersama Profesor Hasbullah Thabrany, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau dan Renny Nurhasana, Dosen dan Peneliti Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia bersama Don Brandy membahas mengapa cukai rokok harus naik di saat pandemi. Kebiasaan merokok memang seharusnya dikendalikan dengan menaikan cukai rokok.
 

        WHO menerbitkan data dari GYTS yang mengungkapkan bahwa 40,6% dari pelajar Indonesia yang berusia 13-15 tahun pernah menggunakan produk tembakau, dan 19,2% dari pelajar saat ini merokok. Melalui data ini bisa kita simpulkan bahwa perlu adanya pengendalian konsumsi rokok salah satunyadengan menaikan cukai rokok di saat pandemi sekarang ini. Cukai rokok yang sudah naik per 1 Januari 2020 sebesar 23% dirasa masih perlu dinaikan kembali karena mengingat masih banyak yang mampu membeli rokok. 
        Padahal kita tahu bahwa banyak masyarakat yang harus putus kerja di saat pandemi ini tapi hal ini malah membuat sebagian banyak orang memilih membeli rokok daripada memenuhi kebutuhan primernya. Sangat disayangkan sekali kebiasaan baik yang seharusnya terbentuk saat pandemi ini menjadi sia-sia karena lebih memilih kebiasaan merokok yang mengingatkan bahaya bahkan memerlukan biaya lebih disaat masa-masa sekarang ini. 
        Emmm.. Saya rasa memang perlu sekali cukai rokok segera dinaikkan.
        Saya berharap kenaikan cukai rokok ini bisa membawa dampak baik di Indonesia. Hal pertama yang menjadi harapan saya adalah akan banyak anak sehat lahir ke dunia karena jika orangtuanya perokok maka meraka bisa menciptakan anak stunting. Kita tentu tidak ingin 20 tahun ke depan akan banyak anak yang memiliki kekurangan terlebih jika otaknya yang tidak berkembang. 
        Menjauhkan rokok dari para pecandu memang bukan solusi yang tepat tetapi jika kita menaikan cukai rokok maka kita bisa membuat orang berpikir berkali-kali untuk membeli rokok. Terlebih di saat pandemi saat ini dimana pendapatan berkurang namun pengeluaran tetap, saat cukai rokok dinaikan dan nilai harga rokok menjadi sangat tinggi maka mungkin akan banyak perokok yang mulai berhenti merokok. Walau kata OB di tempat saya kerja sih bilang “tetap aja mba saya beli selama masih ada yang jual di pinggir jalan.” 

Rokok dan kisahnya
        Memang sudah saatnya kisah rokok harus berakhir di masa pandemi saat ini. Kita tidak juga membuat negara Indonesia kekurangan pendapatannya karena kita berhenti merokok. Saya suka pendapat Profesor Hasbullah Thabrany bahwa pendapatan negara dari cukai rokok bukanlah suatu kontribusi dari industry rokok melainkan denda dari para perokok yang merusak dirinya dan juga lingkungannya. Jadi, jangan bangga dulu jadi perokok karena untuk sebatang rokok yang anda bakar anda membayar lebih untuk sebuah pelanggaran. 
        Ingat betul kata papa saya “daripada membakar uangmu untuk sebatang kecil rokok lebih baik menimbun hartamu di rekening”.

Komentar

  1. Saya heran , harusnya masa pandemi saat ekonomi turun, konsumsi rokok ikut turun. Tapi kenyataannya malah makin naik. Hmmm

    BalasHapus
  2. Saya bilang, perokok itu gak ada hati! Seenaknya saja gak mikirin orang di sekitarnya. Apa lagi yang enjoy mengisap puntungnya di depan umum. Kadang kesel, doa jelek lah yang keluar. Mana alergi asap rokok pula. Langsung mampet hidung kalau kecium dikit aja.

    BalasHapus
  3. Apapun Alasanya rokok tidak baik keadaan nya, dilemanya Bagi pemerintah, mungkin ini jadi Pemasukan, namun Aku sebagai individu merasa dirugikan, yakni sebagai perokok Pasif istilahnya,,

    BalasHapus
  4. Benar banget si kalau rokok nggak hanya merusak diri sendiri tapi juga dapat merusak sekeliling. Apalagi di masa pandemi seperti ini.

    BalasHapus
  5. Bener bgt nih, meski cukai rokok naik tp perokok gak jera ya, msh bl aja sementara covid-19 ada d depan mata.

    BalasHapus
  6. Setiap ada yang merokok deket2 sama anakku pasti aku langsung ngajak menjauh. Walaupun itu keluarga, gak peduli bikin dia risih atau apapun yg penting kesehatan anakku. Paling sebel banget ketemu sama perokok yg gak tau tempat. Semoga pada stop merokok deh yah

    BalasHapus
  7. Susah sih menyadarkan para perokok, ya. Tapi harus tegas untuk say no untuk rokok. Kalau lihat ada yang merokok pun aku langsung menjauh. Menurutku salah satu kriteria cari pasangan harus lah tidak merokok biar jumlah perokok berkurang

    BalasHapus
  8. Sampai saat ini saya masih geleng-geleng kepala. Sampai kapan negara kita bebas akan perokok. dilihat dari presentasinya saja malah makin meningkat. Sepertinya rokok sudah menjadi kebutuhan pokok dari sebagian perokok.

    BalasHapus

Posting Komentar